Kabar baik kembali datang dari kancah inovasi teknologi tingkat antariksa. Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) Sekolah Vokasi UGM, Rahmat Nur Panghegar, bersama timnya Narantaka GMAT, sukses mengharumkan nama bangsa di kompetisi internasional Kibo Robot Programming Challenge (Kibo-RPC).
Dalam ajang bergengsi yang diselenggarakan langsung oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) di Tsukuba Space Center, Jepang tersebut, tim Narantaka GMAT tampil memukau dan berhasil membawa pulang dua gelar kejuaraan sekaligus. Mereka sukses menyabet posisi 3rd Place pada kategori Simulation Run serta menempati posisi 5th Place pada kategori ISS Run.
Tantangan Pemrograman Robot Astronaut di Luar Angkasa
Kibo-RPC bukanlah kompetisi pemrograman perangkat lunak biasa. Kompetisi ini memberikan tantangan tingkat tinggi kepada mahasiswa dari berbagai belahan dunia untuk memprogram robot astronaut bernama Astrobee. Algoritma dan baris kode yang dirancang oleh tim harus mampu membuat robot tersebut bergerak dan menyelesaikan serangkaian misi secara otonom di dalam modul Kibo yang mengorbit tepat di International Space Station (ISS).

Pencapaian luar biasa ini merupakan hasil kolaborasi solid dan lintas disiplin ilmu dari para talenta muda UGM. Berikut adalah susunan anggota tim Narantaka GMAT yang berlaga di Jepang:
-
Rahmat Nur Panghegar (Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak ’23)
-
Muflukhul Ammar (Elektronika dan Instrumentasi ’22)
-
Polikarpus Arya P. (Teknologi Informasi ’23)
-
Zufar Syaafi’ (Teknologi Informasi ’23)
Keberhasilan memprogram robot untuk menjalankan misi otonom di stasiun luar angkasa ini membuktikan bahwa kualitas talenta digital mahasiswa TRPL dan UGM secara umum diakui secara global.
Pencapaian gemilang di kancah antariksa ini merupakan wujud nyata kontribusi terhadap SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), membuktikan kapasitas talenta nasional dalam menguasai teknologi robotika otonom dan kedirgantaraan tingkat lanjut. Di sisi lain, keterlibatan aktif dalam ekosistem riset yang difasilitasi oleh institusi global seperti JAXA mencerminkan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals), di mana kolaborasi lintas negara menjadi kunci utama dalam mendorong batas-batas kemajuan sains. Lebih jauh, pengalaman kompetisi berskala internasional ini menegaskan keberhasilan implementasi SDG 4 (Quality Education), mencetak generasi inovator muda yang tidak hanya tangguh secara akademis, tetapi juga berani bermimpi dan bersaing di panggung teknologi dunia.
