Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh talenta muda inovatif di bidang teknologi. Tim mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) SV UGM berhasil meraih posisi 5 Besar (Top 5 Finalist) dalam ajang bergengsi Refactory Hackathon X UGM yang diselenggarakan pada 21-22 Februari 2026.
Pada kompetisi tersebut, tim ini menggagas sebuah inovasi bernama Sistem Pengendali Hawa Nafsu (SIPHAN). Proyek ini mengembangkan sebuah ekstensi browser berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berfokus pada harm reduction dan kesejahteraan digital remaja.
Tim di balik inovasi SIPHAN terdiri dari empat mahasiswa dengan peran spesifik:
-
Ahsani Fadhli Ilahi bertindak sebagai Extension & AI Engineer.
-
Gunael Alexander Silalahi memegang peran DevOps & Product Manager.
-
Hilarius Christiano Avin Paliling bertugas sebagai Frontend Engineer.
-
Daffa’ Abiyyu Dzulfiqar mengambil peran sebagai Back-End & Data Engineer.
Mekanisme Perlindungan Real-Time dan Edukatif
Inovasi SIPHAN dirancang untuk mendeteksi konten NSFW (gambar) secara real-time dan memberikan intervensi berupa efek blur serta pesan cognitive pause. Dalam operasionalnya, sistem memanfaatkan eksekusi dari library NSFWJS untuk mendeteksi visual yang tidak pantas. Saat pengguna terpapar konten sensitif, efek blur dan pesan peringatan edukatif akan muncul, di mana ekstensi ini dirancang untuk membantu remaja melatih self-regulation dalam mengonsumsi konten digital.
Selain perlindungan langsung di layar, sistem ini juga dilengkapi dengan dashboard analitik yang memvisualisasikan data pencegahan guna membantu pengguna memantau progres self-regulation secara mandiri.
Komitmen Privasi 100% Tanpa Server Eksternal
Di tengah maraknya kekhawatiran mengenai kebocoran data pribadi, SIPHAN menawarkan keunggulan pada aspek keamanan. Tim pengembang menerapkan pemrosesan AI lokal (edge computing) untuk menjamin privasi 100%. Privasi dan kerahasiaan data terjamin 100% melalui proses deteksi client-side tanpa pengiriman data ke server eksternal.
Keberhasilan menembus jajaran 5 besar di Refactory Hackathon membuktikan bahwa solusi teknologi berbasis AI lokal tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki dampak sosial yang kuat bagi generasi muda di era digital.
Inovasi perlindungan digital bagi remaja ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap SDG 3 (Good Health and Well-being), khususnya dalam mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan generasi muda saat berinteraksi di dunia maya. Di sisi lain, pemanfaatan kecerdasan buatan dan edge computing yang menjamin privasi pengguna secara ketat selaras dengan SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), membuktikan bahwa inovasi teknologi masa depan harus dirancang secara aman, andal, dan beretika. Lebih jauh, keberhasilan para mahasiswa menembus posisi bergengsi dalam kompetisi ini menegaskan pencapaian SDG 4 (Quality Education), mencetak talenta digital yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga memiliki empati mendalam terhadap penyelesaian masalah sosial di masyarakat.
