Pemeriksaan gigi sering kali menjadi momen yang mendebarkan bagi anak-anak. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di SD Gistrav Islamia School pada 17 April 2026 lalu. Ratusan siswa tampak antusias mengantre untuk diperiksa, bukan oleh peralatan medis konvensional yang menakutkan, melainkan lewat sentuhan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Pemandangan ini terwujud berkat DENTEKSI, sebuah inovasi teknologi pemindai gigi pintar yang lahir dari kolaborasi lintas kepakaran. Sistem mutakhir ini diarsiteki oleh Dosen UGM, Muhammad Fakhrurrifqi, S.Kom., M.Cs., yang menggandeng pakar medis drg. Dewi Arifahni, MHPM dan drg. Dhinintya Hyta Narissi, beserta tim pengembang lainnya.
Ubah Rasa Takut Menjadi Pengalaman Interaktif
DENTEKSI membawa cara kerja yang revolusioner. Hanya dengan mengambil gambar bagian dalam mulut anak (citra intraoral), algoritma AI akan langsung bekerja membedah kondisi klinis secara real-time. Dalam hitungan detik, sistem mampu memetakan presisi antara gigi yang sehat sempurna, mendeteksi awal mula karies (lubang), hingga mengidentifikasi gigi yang telah tanggal.
Hasil analitik yang instan ini tidak hanya memangkas waktu diagnosis secara drastis, tetapi juga sukses menyulap proses pemeriksaan menjadi pengalaman digital yang seru dan edukatif bagi anak-anak usia sekolah.
Aksi Nyata Talenta Digital TRPL UGM
Di balik kelancaran operasional teknologi ini di lapangan, terdapat kontribusi masif dari sivitas akademika Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) SV UGM. Lima talenta digital TRPL turun langsung sebagai fasilitator, yakni alumni Rizal Miftakhul Rohman, beserta barisan mahasiswa aktif: Yudha, Fathur, Alin, dan Wahyu.
Kolaborasi alumni dan mahasiswa ini mengambil peran krusial di garis depan. Mereka bertugas mengoperasikan sistem pemindai, memastikan akurasi pengambilan data citra, sekaligus meredakan ketegangan siswa melalui pendekatan komunikasi yang ramah. Keterlibatan ini menjadi bukti nyata hilirisasi riset kampus, di mana mahasiswa tidak hanya berteori di laboratorium coding, tetapi juga mengabdi dengan membawa solusi teknologi langsung ke tengah masyarakat.
Merajut Masa Depan “Bakti Sejuta Senyum”
Penerapan DENTEKSI di SD Gistrav ini bukan sekadar uji coba software, melainkan bagian dari kampanye besar Bakti Sejuta Senyum Sehat Indonesia. Data hasil skrining cerdas ini nantinya akan menjadi fondasi pijakan bagi tenaga medis untuk menyusun rekomendasi perawatan lanjutan yang lebih akurat.
Kehadiran sistem cerdas ini menjadi bukti konkret bagaimana inovasi teknologi (SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure) dapat diarahkan untuk mengakselerasi SDG 3 (Good Health and Well-being), memberikan akses deteksi dini yang presisi, ramah anak, dan merata. Di sisi lain, turun tangannya talenta mahasiswa ke tengah masyarakat merepresentasikan wujud nyata SDG 4 (Quality Education), di mana ruang kelas tidak lagi dibatasi oleh dinding kampus. Melalui sinergi antara teknologi kecerdasan buatan, keahlian medis, dan dedikasi akademisi ini, layanan kesehatan di Indonesia didorong untuk menjadi lebih preventif, proaktif, dan inklusif. Inovasi ini menjadi cetak biru bagaimana teknologi seharusnya bekerja: inklusif, berdampak nyata, dan merawat senyum masa depan Indonesia.
