Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Lab Center of Excellence (CoE) Creative Industry terus menunjukkan komitmennya dalam menjembatani dunia akademik dengan industri riil. Bertempat di Lantai 7 Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) pada 14 Januari 2026, digelar kegiatan Collaborative Brainstorming Series yang berfokus pada perumusan strategi konten pemasaran untuk film horor yang dinanti-nanti, “Setan Alas”.
Kegiatan yang berlangsung dinamis ini melibatkan tokoh kunci di balik layar “Setan Alas”, yakni Yusron Fuadi selaku Sutradara sekaligus Dosen program studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) DTEDI SV UGM, dan Fani Pramuditya selaku Produser yang juga Dosen Departemen Ekonomi dan Bisnis (DEB) SV UGM. Diskusi juga diperkuat oleh kehadiran tim produksi inti yang merupakan alumni Universitas Gadjah Mada.
Sinergi Mahasiswa Lintas Fakultas
Salah satu sorotan utama dalam kegiatan ini adalah partisipasi aktif mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Tidak hanya didominasi oleh mahasiswa Sekolah Vokasi, forum ini menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan mahasiswa dari Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, FKKMK, FEB, Fakultas Pertanian, Fakultas Kehutanan, FISIP, Fakultas Geografi, Fakultas Ilmu Budaya, hingga Fakultas Filsafat. Bahkan, kolaborasi ini turut menggandeng mahasiswa Fakultas Media Rekam dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Keberagaman perspektif dari berbagai bidang ilmu ini menghasilkan diskusi yang kaya, membuktikan bahwa industri film membutuhkan sinergi dari berbagai sektor, mulai dari teknis, ekonomi, hukum, hingga sosiokultural.
Strategi Konten Unik: Zombie di Bulan Ramadan
Agenda utama diskusi meliputi perumusan strategi pemasaran, progres produksi, hingga rencana peluncuran konten digital. Fokus khusus diberikan pada platform media sosial seperti TikTok, mengingat target audiens yang besar di platform tersebut.
Ide-ide kreatif bermunculan dalam sesi brainstorming, salah satunya adalah konsep konten tematik yang relevan dengan momen Ramadan dan Lebaran. Beberapa narasi unik yang dirancang antara lain aktivitas “hari-hari zombie” di bulan puasa, hingga narasi jenaka tentang “Setan yang lepas dari aturan puasa Ramadan”. Strategi ini dirancang untuk menjaga keterlibatan (engagement) audiens menjelang dan pasca momen Lebaran.
Pengembangan IP: Film dan Game
Tidak berhenti pada film, diskusi juga membahas pengembangan Game Setan Alas. Langkah ini diambil sebagai upaya perluasan dunia cerita (universe expansion) dan penguatan Intellectual Property (IP) Setan Alas secara lintas platform. Kehadiran game diharapkan dapat menjadi media pendukung yang efektif untuk menjaga keberlanjutan hype film serta memberikan pengalaman imersif yang berbeda bagi para penggemar.
Sinergi lintas disiplin dan institusi ini merupakan implementasi nyata SDG 17 (Partnerships for the Goals), di mana kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam melahirkan karya kreatif yang berdaya saing. Di sisi lain, pengembangan kekayaan intelektual (IP) melalui ekosistem film dan permainan digital secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang sejalan dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth). Lebih jauh, peran inkubator ini dalam menempa keahlian praktis mahasiswa turut memperkuat SDG 4 (Quality Education), memastikan lahirnya talenta vokasi yang kompeten dan relevan dengan dinamika industri masa depan.
