Gelombang prestasi kembali dicatatkan oleh mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Mengusung misi mulia untuk menciptakan pendidikan yang lebih inklusif, tim bernama DNA JUARA berhasil menyabet gelar Juara 2 Nasional dalam ajang bergengsi Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Pesta Rakyat Unib 2025 x Fision.
Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan oleh Kementerian Pengembangan Kreativitas Mahasiswa BEM KBM Universitas Bengkulu berkolaborasi dengan FISION UKM FORSEI, dan berlangsung secara daring mulai 30 Oktober hingga 16 November 2025. Mengusung tema besar pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan, ajang ini menuntut peserta untuk menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif.

Tim DNA JUARA yang diketuai oleh Ayu Atikah (TRPL 2024) dan beranggotakan Nawwaf Zayyan Musyafa (TRPL 2024) hadir dengan karya inovatif berjudul:
“Smart Learning Diagnosis: Pemanfaatan Kecerdasan Buatan untuk Deteksi Dini Gangguan Belajar pada Siswa Sekolah Dasar.”
Karya ini dirancang sebagai respon terhadap kebutuhan pendidikan inklusif di tingkat sekolah dasar. Sistem berbasis AI ini berfungsi mendeteksi gejala awal gangguan belajar spesifik, seperti disleksia dan diskalkulia. Hasil analisis sistem disajikan dalam bentuk dashboard laporan diagnosis awal serta rekomendasi pembelajaran adaptif bagi guru. Lebih lanjut, inovasi ini diposisikan sebagai alat pendukung keputusan (decision support system) untuk membantu guru mengenali indikasi awal gangguan belajar. Tim DNA JUARA menekankan bahwa sistem ini dirancang untuk mendampingi penilaian pihak ahli, sehingga tidak bersifat menggantikan peran profesional klinis seperti psikolog.
Pengembangan teknologi asistif ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan SDG 4 (Quality Education), khususnya dalam menjamin pendidikan yang inklusif dan setara bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Di sisi lain, penerapan kecerdasan buatan sebagai alat bantu diagnosis mempertegas kontribusi mahasiswa pada SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure). Melalui inovasi ini, diharapkan deteksi dini hambatan belajar dapat dilakukan lebih merata, sehingga setiap anak mendapatkan haknya untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.
