Tim peneliti dari program studi Teknolgi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu sosial melalui riset teknologi. Tim yang terdiri dari dosen Margareta Hardiyanti, S.Kom., M.Eng. (sebagai penulis korespondensi) dan Dinar Nugroho Pratomo, S.Kom., M.IM., M.Cs., bersama mahasiswa Revandra Aryo Dwi Krisnandaru dan Vellya Riona, melakukan evaluasi mendalam mengenai aksesibilitas aplikasi pembelajaran mobile bagi individu dengan disabilitas intelektual.
Latar belakang penelitian ini menyoroti ironi dalam digitalisasi pendidikan. Di satu sisi, teknologi seluler seperti tablet dan smartphone telah menjadi alat integral dalam kegiatan pedagogis modern. Namun, di sisi lain, isu aksesibilitas pada aplikasi mobile sering kali menjadi penghalang bagi penyandang disabilitas. Hal ini dinilai bertentangan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs) dan Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas yang menjamin kesetaraan akses pendidikan.
Dalam studi ini, tim peneliti berfokus untuk mengetahui sejauh mana industri pengembang aplikasi mempertimbangkan aspek aksesibilitas dalam produk mereka. Objek evaluasi difokuskan pada aplikasi seluler interaktif yang dirancang untuk belajar membaca dan mengenal alfabet.
Untuk mendapatkan hasil yang objektif, tim menggunakan dua pedoman evaluasi yang ketat, yaitu pedoman berbasis riset (research-based guideline) dan standar desain yang diperkenalkan oleh The World Wide Web Consortium (W3C). Evaluasi heuristik dilakukan untuk membedah fitur demi fitur pada aplikasi-aplikasi tersebut.
Hasil penelitian mengungkap fakta yang cukup memprihatinkan. Ditemukan adanya pengabaian yang lazim terhadap poin-poin panduan aksesibilitas pada mayoritas aplikasi belajar interaktif yang beredar. Dari sekian banyak aplikasi yang diuji, hanya dua aplikasi yang dapat dikategorikan sebagai “sangat inklusif”.
Temuan ini mengindikasikan adanya kebutuhan mendesak (pressing need) bagi para pengembang aplikasi untuk memperbaiki desain dan fungsionalitas produk mereka. Penelitian ini juga mengelompokkan kriteria aksesibilitas ke dalam empat grup utama, menyoroti aspek mana yang paling sering diabaikan dan aspek mana yang sudah cukup diperhatikan oleh pengembang.
Melalui publikasi ini, tim peneliti DTEDI SV UGM berharap dapat meningkatkan kesadaran industri teknologi pendidikan. Diharapkan ke depannya, aplikasi pembelajaran tidak hanya canggih secara fitur, tetapi juga ramah dan dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak dengan disabilitas intelektual, demi mewujudkan pendidikan yang adil dan merata.
Evaluasi kritis terhadap infrastruktur pembelajaran digital ini merupakan langkah fundamental dalam mengawal SDG 4 (Quality Education), memastikan bahwa hak pendidikan bagi penyandang disabilitas terpenuhi tanpa hambatan teknologi. Di sisi lain, upaya mendorong kesetaraan akses melalui perbaikan desain aplikasi secara langsung mendukung SDG 10 (Reduced Inequalities), mempersempit jurang digital bagi kelompok rentan. Lebih jauh, rekomendasi perbaikan bagi para pengembang mencerminkan semangat SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), memacu lahirnya inovasi industri teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga inklusif dan humanis.
